Rabu, 25 Juni 2014

Dear You

Entah apa yang sebenarnya ingin ku tulis malam ini, tapi jemari ku lagi-lagi mengajak ku bersajak. Yang menurut ku sajak ini tak penting, sajak ini tak pernah penting untuk ku karena tak pernah sedikitpun kamu membacanya. Iya kamu, kamu yang selalu jadi tema disetiap sajak ku.
Aku tau, bahkan aku sadar tak sepantasnya aku punya rasa ini. Apalagi kalau aku menyalahkan mu dalam setiap luka yang ku rasa, karena kamu sedikitpun tak pernah tau tentang rasa ini. Mungkin tak mau tau.
Terkadang kamu begitu sangat membahagiakan tapi sedikit pula kamu begitu menyesakkan, harusnya dari dulu ku sudahi saja rasa ini. Tapi bagaimana bisa aku menyudahi rasa ini, jika setiap kali aku mencoba berhenti mempedulikan mu aku selalu gagal, gagal dan sakit jika mengabaikan mu, padahal kamu begitu sering mengabaikan ku tapi aku tak pernah bisa membalasnya. Kalau kamu mau tau aku cape diperbudak oleh rasa ini. Hah mau tau? Tau rasa ku saja tidak apalagi tau capenya aku.

Aku pernah berkhayal suatu saat nanti jika kamu tau tentang rasa ku, kamu akan meminta maaf tentang sikap mu yang selalu mengabaikan ku. Hehehe itu hanya khayalan semata, rasanya tak mungkin jadi kenyataan.
Dan malam ini aku hanya berharap suatu saat nanti kau tersadar bahwa hanya aku yang peduli pada mu, hanya aku yang benar-benar menyayangi mu, hanya aku yang pernah mau kau abaikan, hanya aku yang punya rasa yang tak pernah mati untuk mu.

Dear you,
saat pertama kali kita dipertemukan oleh Tuhan, saat itu pula rasa ini mulai tumbuh.
Saat itu pula aku menyayangi dalam diam.
Merindukan mu dalam doa, memiliki mu dalam mimpi, dan yang lebih menyakitkan mencintai mu dalam sunyi.
Love you.

Tertanda,
aku yang punya rasa untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar